Sabtu, Oktober 02, 2010

Jodoh, Mati dan Rejeki

Hello mommies.. kali ini saya mau share cerita pengalaman pribadi saya mengenai Rezeki. Jodoh dan Mati-nya hanya untuk "teman judul" Rezeki saja, maksudnya karena sama-sama sudah ditentukan Allah SWT:)

Saya dulunya adalah working mom, dengan jam kerja yang ringan, hanya dari 8.30 - 3.30, 5 hari kerja dalam seminggu. Dalam setahun bisa mendapat max 15.5x gaji. Kami tidak punya pembantu, karena memang tidak pernah berjodoh dengan pembantu tetap, hanya pembantu part time yang datang 1-3x seminggu tergantung kebutuhan.

Anak saya lahir di Doha-Qatar, dan setelah berjuang mencari pembantu yang akhirnya tidak berhasil (tidak cocok terus) maka akhirnya saya lari ke Penitipan Anak (nursery) untuk menjaga dia selama saya kerja. Alhamdulillah nursery-nya walaupun international tetapi nanny-nya masih mengasuh dengan cara-cara Asia, karena juga nanny-nya berasal dari Filippin. Anak saya dirawat dengan kasih sayang, bahkan kalo sedang tidak enak badan nanny-nanny tersebut rela hati menggendongnya, yang bahkan ayah bundanya sendiri jarang melakukannya. Semua diaper, baju ganti, makanan dan susu saya siapkan tiap hari dari rumah untuk keperluan Latifah seharian di nursery.

Tetapi karena sejak umur 4 bulan terpapar dengan lingkungan luar, maka anak saya sering sekali sakit. Mulai dari batuk pilek biasa, infeksi telinga sampai diare parah yang disebabkan Virus Rota sampai diopname. Airmata ini sering kali tumpah saat melihat anak saya lemas, diam, sampai muntahnya berwarna hijau. Tapi tugas harus tetap dijalankan, saya harus tetap masuk ke kantor dan anak saya dititipkan ke nursery.

Nurserynya sendiri juga mempunyai nurse yang akan memberikan obat seperti yang telah kami instruksikan jadi ya memang hati saya agak tenang. Menelpon nursery untuk mengetahui perkembangan kesehatan anak tak lupa terus saya lakukan. Dan jika ada kejadian khusus, misalnya anak saya tiba-tiba demam di atas 37.8 pun saya ditelpon untuk memberi tahu atau sekedar meminta ijin untuk memberikan obat penurun panas.

Kami merasa nyaman dengan keadaan seperti ini, karena memang tidak ada pilihan lain. Merekrut pembantu juga bukan pilihan karena selain biaya perekrutan mahal, sekitar Rp 25 jt, kita juga harus "cocok" dengan pembantu yang kita pilih dengan hanya melihat foto di database di agen pembantu. Selama 2 tahun kita harus hidup dengan pembantu tersebut, cocok ataupun tidak cocok. Kecuali kalo pembantu tersebut melakukan perbuatan melanggar hukum maka tidak diperkenankan untuk menukar. So, there's no such thing as alasan "ketidakcocokan". Pengalaman masa lalu yang sudah mencoba berbagai macam pembantu adalah dengan pembantu yang sudah mempunyai visa tinggal di Qatar dengan sponsor orang lain, sehingga saya tidak terbebani biaya agensi.

Sebenarnya kalo dihitung secara umum meskipun biaya pembantu bulanan dibandingkan biaya bulanan yang kita keluarkan tiap bulan, masih lebih murah bila kita mempunyai pembantu. Tapi karena kita mempunyai masa lalu yang kelam dengan pembantu yang menyisakan trauma (haduh, bahasanya..) dan hilangnya "privacy", maka kita memilih untuk tetap bertahan dengan nursery + part time maid.

Ketika isu flu babi merajalela, semua sekolah dan nursery di Qatar menerapkan kebijakan ketat untuk mencegah penyebarannya. Antara lain melarang anak yang sakit untuk sekolah, terutama batuk pilek dengan demam tinggi, sampai ada surat ijin dokter yang menyatakan fit. Bahkan bila ada 2 bersaudara yang sekolah di tempat yang sama, dan salah satunya sakit, maka saudaranya juga tidak boleh sekolah.

Di sinilah mulai timbulnya masalah bagi kami. Karena Latifah memang sering sakit dan kadang disertai demam tinggi maka mau tak mau saya harus cuti untuk menemani dia di rumah. Saya bukan ibu yang egois. Saya memang ingin bersama dengan anak saya kalo dia sedang sakit, tapi saya juga seorang pegawai yang tidak bisa seenaknya cuti.

Sebenarnya atasan saya memberikan kelonggaran untuk saya cuti kapanpun bila anak sakit, karena memang jatah cuti saya dalam setahun ada 31 hari kerja (lebih kurang 1.5 bulan), plus cuti bersama dari pemerintah (dalam setahun ada 2x cuti Idul Fitri, Idul Adha yang lamanya masing-masing mencapai 10 hari kalender). Tetapi kalo misalnya di kantor ada hal yang urgent, maka saya juga tidak bisa cuti seenaknya.

Saat paling menyedihkan bagi saya adalah ketika saya harus tetap ke kantor, sementara Latifah sakit dan ditolak di nursery walaupun batuk pilek sudah agak reda dan tidak demam lagi. Surat dokter memang menyatakan dia harus istirahat 3 hari dan itu adalah hari ke-3. Akhirnya atasan saya menyuruh membawa Latifah ke kantor. Sementara saya mengerjakan tugas, Latifah tidur di musholla ditemani satpam kantor. Ketika dia bangun dan bosan di kantor akhirnya dia memilih untuk menunggu di mobil sambil menonton kartun kesukaannya, dengan AC menyala dan tetap ditemani satpam kantor.

Menangis hati saya waktu itu, sedih sekali rasanya melihat anak saya seperti itu. Teman-teman di facebook ada yang menghujat saya, ada pula yang ikut sedih dan menyemangati saya. Setelah pekerjaan saya selesei saya bisa langsung pulang, dan atasan saya pun turut mengantarkan ke mobil dan dia bilang sendiri ke anak saya, meminta maaf karena meminta saya untuk bekerja di waktu dia sakit karena ada masalah penting. She was just 2 years old at that time:((.

Setelah itu saya semakin berpikir keras untuk berhenti kerja, selain memang ada alasan lain. Suami dari dulu selalu mendukung saya untuk di rumah, walaupun tidak pernah melarang saya untuk kerja dan bangga juga istrinya kerja. Suami bilang, lebih baik bunda di rumah aja, kalo Latifah sakit dia ada yang menjaga.. aku jadi tenang juga di kantor.

Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, terutama tentang masalah keuangan saya memutuskan untuk berhenti kerja. Saya berpikir, tidak mengapa tidak bisa menabung banyak, nanti setelah anak-anak sudah mandiri saya bisa kerja lagi. Tidak mengapa tidak bisa tamasya asalkan setiap tahun bisa mudik ke Indonesia (karena memang ada jatah uang tiket setahun sekali dari perusahaan suami).

Karena kantor saya adalah kantor dengan jumlah personel sedikit, maka rasa kekeluargaan itupun sangat erat. Hanya ada 1 teman saya orang Filipin yang mendukung saya resign, karena dia juga merasakan susahnya membesarkan anak, terutama ketika anak sakit. Sementara semua teman lainnya menyayangkan keputusan saya dan mendorong saya untuk mencari pembantu saja. Well, I really think finding a maid is like mencari jodoh.. Some people memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan pembantu.

Atasan saya pun memohon saya tinggal lebih lama sampai dia menemukan pengganti saya. Walaupun sebenarnya dia hanya berhak menahan saya sesuai dengan kontrak, 1 month notice, tapi atasan saya meminta saya pergi setidaknya seminggu setelah saya selesei melatih pengganti saya.

Dan mulailah saya memasang iklan dimana-mana untuk mencari pengganti, dan secara mengejutkan kami menerima sekitar 700 lebih pelamar. Mulai dari bangsa Asia Tenggara, India, Arab, bahkan bule dari Eropa dan Amerika turut melamar. Ada yang bergelar Phd, Engineer dan Chartered Accountant. Hello? Ini hanya posisi Admin Assistance di sebuah Embassy negara kecil (yang memang maju sih). Ternyata Qatar adalah Land of Hope baru.

Terus terang saya minder melihat para pelamar dan semua teman kantor juga kaget melihat banyaknya pelamar karena mereka juga punya titipan dari teman/keluarganya yang kemudian hanya saya tumpuk di meja. Saya "hanya" lulusan S1 Akuntansi Unair (dengan tidak mengurangi hormat pada almamater saya) sementara mereka dari berbagai Universitas di seluruh dunia dengan berbagai jenjang pendidikan. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah misalnya di masa depan sewaktu saya "ingin" mencari kerja lagi akan bisa mendapatkan dengan mudah? Wallahu A'lam. Teman-teman kantor saya yang putus asa melihat tumpukan pelamar di meja berkata, "why don't you just stay? you're so lucky working here, look at those people struggling for better job".

The show must go on, dan akhirnya kami menemukan calon yang tepat. Dan lucunya, saya disuruh atasan untuk ikut mewawancara, serta memperkenalkan saya dan terus-terusan mengatakan pada 12 orang peserta wawancara kalo saya ini aset berharga di perusahaan, dia pergi karena anaknya, dan kami ingin orang yang menggantikan dia agar selalu kerasan dan lama kerja di sini dan bla..bla..bla.. . Fyi, saya kerja di kantor ini sudah 3 tahun, suatu rekor karena masa lalu saya yang kutu loncat tidak bisa bertahan lebih dari 1 tahun di kantor lama dengan berbagai alasan. Saya sediiiih sekali sewaktu mewawancara mereka dan memang berat bagi saya untuk meninggalkan kantor.

Dalam proses 1 month notice itu teman-teman saya semua juga menyayangkan kenapa saya berhenti kerja? (termasuk my dentist!) Sayang gajinya, kerjanya kan ga berat buktinya sering fesbukan (yeuuuuk!), dan Latifah kan bisa dicarikan pembantu dan bla..bla.. bla... Dan salah satu teman itu kebetulan juga tiba-tiba mengajak saya untuk join membuka restoran Indonesia di Qatar. Oh my God.. memang benar kalo rejeki itu tidak akan lari kemana.

Kini sudah 5 bulan saya berhenti kerja, dan keadaan Restoran kami memang juga belum begitu stabil.. kadang keuntungan banyak (walaupun bagi hasil tidak mencapai separo gaji saya dulu) dan kadang pula keuntungan sedikit sekali (yang hanya bisa buat bayar tagihan telpon). Tapi saya bahagia. Saya hanya bertugas mengerjakan laporan keuangan saja, selain sebagai pemegang saham minoritas.

Dan herannya walaupun saya tidak kerja, penghasilan restoran juga tidak bisa diandalkan (belum balik modal juga), masih jarang masak, sering jajan di luar, masih pake part time maid, dan masi nyeterikain di laundry, kurs dolar yang terus melemah (maaf, sebagai expat memang kami agak "sedih" kalo rupiah menguat) tetapi kami tetap bisa menabung. Subhanallah. Berkali-kali kami hitung secara matematika jadi bingung sendiri. How come? maaf sekali lagi, saya tidak bermaksud sombong/riya. Yang saya ingat, meskipun dulu saya berhasil menyimpan sekitar 80-90% gaji saya, tapi seringkali ada "kejadian yang tak mengenakkan" yang membuat saya merelakan sebagian atau seluruh tabungan saya. So, in the end sama saja.

Mungkin juga sewaktu bekerja saya "terlalu berlebihan" dalam berbelanja dengan alasan aktualisasi diri. Atau pura-pura jualan tas branded dari US, yang hasilnya juga buat beli tas buat diri sendiri. Sekarang saya melihat tumpukan tas (hahaha.. ga sebanyak mommies yang aktif di fashionesedaily sih) jadi bingung sendiri buat apa juga? Mau saya jual kok banyak yang bernoda susu.. hehehe.. ketahuan joroknya.

Dan alhamdulillah setelah resign dan nyantai di rumah saya bisa hamil lagi. Dan akhirnya gara-gara ga kerja, hamil dan tubuh membesar semua baju kantor saya sumbangkan ke orang-orang terdekat. Mau disumbangkan langsung ke Qatar Charity sayang karena bajunya masi bagus. Ya baju kantor saya branded semua, rata-rata dari Mango, Next dan Zara yang saya beli waktu sale. Fyi, walau branded tapi harganya jarang yang di atas Rp 200ribu. Rata-rata Rp 125ribu saja karena waktu sale memang gila-gilaan turunnya, sampe 70% bahkan 90%. (Ada yang mau nitip? Gucci bag di sini kadang Rp 2juta dapet loh, dijamin original semua, hehehe...)

Dan yang terpenting, selama 5 bulan ini Latifah hanya sekali ke dokter, itupun karena kita mau mudik ke Indonesia dan hanya untuk cek up. Kesehatan anak inilah yang paling membuat kami bahagia. Usai sudah masa-masa harus ke dokter sebulan 2x, harus menempuh 40km pp untuk ke dokter langganan.. second opinion, third opinion, kesusahan ngasi obat yang akhirnya Latifah kami biarkan saja tidak minum obat. Kadang sama dokter ga dikasi obat karena "alergi" atau malah harus minum obat secara terus menerus selama sebulan, ternyata malah cocok dengan Laserin Anak (bukan iklan). Kami berpikir betapa sedihnya orang tua yang anaknya sakit, dan harus bayar biaya dokter dan obat. Karena kami yang ditanggung asuransi kesehatan 100% saja sedihnya bukan main.

Dan tentunya selama 5 bulan ini Latifah saya "kurung" di rumah, sesuai saran big boss saya ketika farewell party di kantor (yang juga berubah menjadi promosi restoran saya karena atasan saya pesan tumpeng). Latifah pun tidak mau "sekolah" lagi, sampai pihak nursery-nya yang menelpon, ini file-nya mau ditutup atau bagaimana. Sayang sebenarnya saya sudah bayar "retainer fee", tapi kalo ingat sakitnya dia di masa lalu membuat saya keder juga untuk mengembalikan dia ke sekolah.

So the point is, bagi ibu-ibu yang merasa berada dalam kebimbangan seperti saya dulu, jangan ragu untuk memutuskan jadi full time mom. Insya Allah rejeki sudah ada yang ngatur.. selain kita mendapatkan pahala juga mendapat ketenangan batin. We must believe that.

Selasa, Maret 16, 2010

Get Dressed!!

Sebagai seorang pekerja, saya sudah biasa berpakaian rapi tiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Meskipun punya baju seabrek-abrek, rasanya masih susah untuk memilih baju untuk ke kantor. Banyak alasannya, antara lain bajunya masih di Laundry (diseterikain), bajunya kotor semua belum dicuci (nyucinya nunggu warna yang sama biar ga luntur), baju yang sudah diseterika rapi terlalu ketat (salahkan kepada obesitas), dan for me baju ketat is big no no.

Oke, setelah 5 hari seminggu berurusan dengan baju kantor, capek dong rasanya.. dan Wiken adalah saat kebebasan untuk memilih baju semaunya. Horee.. bisa pake kaos dan jins (rok).. jilbab juga norak gak papa-papa..

Kalau pulang kerja mau langsung pergi, ga usah ganti baju lagi.. walaupun bekas seterikaan udah ga ada, tapi kan masih oke. Tinggal bawa extra diapers dan susu buat Latifah (atau baju ganti buat suami yang kalo kerja pake baju pabrik), then we all set to go.

Masalah terjadi ketika malam hari sepulang kerja kita istirahat dulu baru jalan-jalan. Rasanya cape kalo harus milih-milih baju lagi. Belum ribet ditungguin suami dan anak kan biasanya mau sholat sekalian di masjid. Akhirnya pelariannya ke .. abaya. Ato pake baju seadanya.

Nah, karena aku emang pada dasarnya MALAS, in my previous life, abaya-ku dicuci langsung di washing machine. And yes, jadinya semua bordirannya lepas. But strange enough, 2 abaya yang "njrawut-njrawut" jadi baju favorit kalo males dandan. Kainnya yang adem, dan karena sudah berumur dipake nyaman sekali. Abaya baru yang bagus, biasanya sekali dua kali pake sudah bau. Tidak menyerap keringat, dan kalo nyuci harus pake tangan (kali ini sudah sadar, ga pake washing machine nyucinya). Dan udah kadang ga sempat nyuci, nunggu minimal 2 abaya bagus baru dicuci, kemudian diseterikain di Laundry juga lama jadinya.

Tinggal dipakein abaya, pake kaos kaki, get set, and go!.

Dulu sih sudah pernah diingetin suami kalo pergi-pergi, baik jauh ataupun dekat pake baju yang bagus, alasan utamanya biar ga disangkain pembantu. Dan memang sih, ibu-ibu temenku kalo pergi ke mall, bajunya bagus-bagus semua.. tasnya juga, dan mereka tampil cantik lah. Beda sama aku yang males dandan ini (dan malas merapikan diri)

Nah mungkin karena akhir-akhir merasa capek banget, jadi biasanya pake abaya "favorit itu", tas bagus (yang gak dedel duwel), dan pake kacamata. Biasanya sih suami ga pernah komplain.

Sampai pada suatu saat kita ke City Center (sekitar seminggu yang lalu), dengan aku pake baju kebesaranku itu. Sampai Di Carrefour yang cahanya terang, suami terkejut. "Sayang, itu abayanya kok benangnya lepas semua? (njrawut-njrawut?)", tanya suamiku. Dengan kaget aku memeriksa, dan Ya Allah, ternyata memang jahitan di bordiran sudah ga karuan bentuknya. Dan aku tiba-tiba merasa MALU.. Duuuh, semoga ga ada orang yang kukenal di sini.. Hiks.. masa akuntan embassy bajunya kaya gini?, pikirku dalam hati. Dan suamiku trus bilang lagi, "Haduh sayang kalo temenku ngeliat kamu kaya gini nanti dipikir kamu ga pernah dikasi duit buat beli baju, malu dong aku". Hiks.. hiks.. semakin sedih saja rasanya.

Well.. akhirnya suamiku menyuruh beli abaya bagus lagi, katanya kalo perlu beli 4 sekalian. Dan buang aja abaya jelek itu. Hiks.. bener juga sih.. selama ada abaya jelek (favorit) itu, pasti akan kupakai terus kalo terlihat sudah rapi di gantungan. Sampai sekarang sih masih belum dibuang.. dan juga belum beli abaya lagi. Tapi kapok deh rasanya pergi-pergi kalo ga pake baju yang rapi.

Dan menjadi tersadar lagi, waktu pengajian dengan Ustadz Zainal Abidin di Dukhan kemaren, kalo Allah itu menyukai yang indah, dan kita juga harus menikmati hidup. Caranya salah satunya yang menghargai diri sendiri kali ya.. pake baju yang pantas dipakai.

Best Regards,
Shanti


Minggu, Februari 14, 2010

Haji 2009

Alhamdulillah kami pada Nov - Dec 2009 lalu telah melaksanakan ibadah haji. Plong rasanya karena kewajiban telah terpenuhi, dan berdoa agar haji kami kemaren adalah haji yang mabrur. Amin.


Sebelum berangkat banyak sekali keragu-raguan pada diriku, terutama dengan adanya flu babi dan bagaimana rasanya meninggalkan Latifah (waktu itu 22 bulan) selama haji. Seorang teman bercerita, kalo dia meninggalkan anaknya untuk umroh tetapi alhamdulillah anaknya juga gak papa, main-main terus. Katanya, Insya Allah kalo kita niat untuk beribadah maka anak pun akan tenang. Hati menjadi lebih tenang, walaupun tetap saja menangis malam-malam, membayangkan meninggalkan Latifah. Suami yang memang dasarnya tenang hanya menghibur, mengatakan Allah akan menjaga Latifah. Well.. jujur saja sebenernya tetap saja kepikiran.

Keraguan kedua adalah adanya informasi flu babi yang katanya sangat berbahaya. Alhamdulillah setelah mencari informasi kesana kemari kami yakin kalo flu babi itu tingkat bahayanya tidak separah SARS. Kami berniat memakai masker sepanjang haji nanti, setidaknya untuk mengurangi ter-ekspose dengan bakteri atau virus lain.

Keraguan ketiga adalah penentuan pelaksanaan haji di Qatar yang mendadak dangdut. Dari awal penentuan kuota sekian, menjadi hanya sekian. Tak henti-hentinya daku "meneror" Hamlah Haramain untuk menanyakan kebenaran berita pengurangan kuota. Dan akhirnya pada pengumuman pertama pendaftar haji, kita tidak termasuk. Oke, pikirku ya memang belum dipanggil. Kami tidak menaruh harapan, malah aku sibuk mencari tempat wisata lain, hehehe.. Walaupun sesekali iseng masih menanyakan ke Haramain. Mereka pun tak berhenti memberi janji " Don't worry sister, please call me back tomorrow". Dan tomorrow menjadi next week, menjadi.. taulah gimana Qatar. Yah kita ga begitu kecewa, karena memang pada dasarnya kita yakin semuanya sudah diatur.

Semuanya berubah ketika pagi hari menerima sms konfirmasi dari Komite Haji Qatar, alhamdulillah, haru sekali rasanya. Langsung semua keraguan-raguan (termasuk was-was karena meninggalkan Latifah) sirna. Yang ada harus cepat-cepat mendaftar ulang karena memang waktunya singkat sekali. Manasik haji segera diikuti lagi setelah awalnya sempat malas karena tidak terdaftar.

Dalam waktu yang sangat singkat semuanya siap. Alhamdulillah Haramain juga menyediakan manasik haji, walau hanya 2 kali pertemuan, tapi cukup menambah kepercayaan diri. Segala perlengkapan haji sudah disiapkan pula oleh Haramain. Sangat profesional.

Kembali ke Haramain. Kenapa memilih Haramain? Tak lain tak bukan karena "racun" dari sahabat tercinta, Ummu Abdurrahman, hehehe.. Beliau bercerita betapa profesionalnya Haramain, tidak akan membiarkan jamaah terlancar, dan supply makanan yang terus menerus. Beliau juga bercerita kalo Bu Nana Fajar dan keluarga waktu itu juga berhaji dengan Haramain dan kelihatannya puas (belum pernah bertanya langsung sih). Ditambah dengan pemikiran bahwa aku ga bisa cuti terlalu lama karena baru cuti Idul Fitri, dan rasanya belum siap meninggalkan Latifah terlalu lama.

Haramain menawarkan paket haji Mekkah Madinah, dengan total waktu 12 hari (yang menjadi 13 hari karena Saudi Airlines delay 5 jam). Dan iming-iming pelaksanaan haji mudah dan tersedianya makanan berlimpah membuat kita bersemangat memilih Haramain. Dan setelah diitung-itung, beda biayanya QR 4000 saja dengan haji biasa dari Indonesia.

Beberapa hari sebelum berangkat kita menerima koper hard case dan beberapa perlengkapan haji. Dan untuk mempermudah identifikasi koper, aku hiaslah koperku dengan sisa-sisa wall paper. Norak tak masalah asal eye catching:). Qtel pun berbaik hati memberikan goody bag yang isinya sleeping bag, alat manicure pedicure, tempat isi batu, sajadah travelling, dan tas tempat sandal.

H-1
Koper harus sudah diserahkan ke Bandara. Jadi kopernya berangkat duluan, dan pada hari H-nya tinggal melenggang kangkung, membawa peralatan pribadi yang bisa bisa masuk kabin. Latifah juga ikut mengantarkan kopernya ke bandara, walaupun pada saat menunggu Ali, Coordinator Haramain yang datang terlambat, dia tertidur pulas di stroller. Little does she know that tomorrow we will leave her :((. Setelah pulang dari bandara kita menemui teman suami, yang baru menginjakkan kaki ke Qatar. Dan berkelilinglah sampai hampir jam 7 malam. Padahal ada teman yang mau mengunjungi sebelum berangkat yang akhirnya harus dibatalkan karena kita masih di jalan. Mohon maaf ya bu..

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kita menjemput teachernya Latifah, yang kita sewa untuk menemani Latifah selama kita tinggal haji. Selama haji ini Latifah kami titipkan ke sahabat kami, Mbak Tika. Pertimbangannya karena beliau mempunyai 2 anak yang seumuran dengan Latifah dan 1 anak yang sudah "lebih besar" dan atraktif yang sering membuat Latifah tertawa. Sebenarnya tetangga juga mempunyai anak yang seumuran, tapi berjauhan dengan tempat tinggal teachernya, sehingga akan kesusahan kalau tiap hari pulang dari nursery hari cari kendaraan lagi. Sementara tempat mbak Tika dan teacher hanya walking distance 5 menit.

Sementara pilihan untuk mendatangkan orang tua tidak ada. Orang tuaku sebagai PNS tidak bisa cuti lama, dan mertua sedang sakit.

Pada saat memasuki rumah mbak Tika untuk menitipkan Latifah, terasa sedih sekali dan akhirnya aku menangis. Latifah yang merasa something wrong akhirnya juga menangis kencang dan tidak mau melepaskan bundanya. Huhuhuhu.. sedih sekali. Tapi pikirku ini nanti bisa gagal rencana kalo aku ga berhenti menangis. Akhirnya setelah reda aku main-main sejenak dengan Latifah bersama teacher dan anak sulung Mbak Tika di kamar. Kemudian kita meninggalkan mereka pelan-pelan. Alhamdulillah sudah lebih plong rasanya.

Pada hari H kita berangkat dengan ceria, walaupun aku diam-diam menitikkan airmata. Ga berani menunjukkan kalo menangis takut dimarahin suami. Nanti bikin Latifah rewel katanya. Kita menuju Jeddah menggunakan Saudi Airlines. Sebenernya kita agak trauma dengan pelayanan Saudi Airlines, tapi saat ini kita tidak dalam posisi memilih juga. Jadi take it or leave it. Dan benar saja, kondisi di atas pesawat adalah free seating, yang memang sudah diinformasikan oleh Ummu Abdurrahman. Kita berniat ihram di dalam pesawat ketika terbang di atas miqot, yang diinformasikan langsung oleh pilot dan pemandu haji. Kebetulan suami memang sudah memakai baju ihram sejak di Doha, jadi di dalam pesawat tidak perlu ribet mengganti baju. Dan so far there's nothing funny happened sampai kita di Jeddah. Alhamdulillah



Di Jeddah kita menunggu kurleb 3 jam di bandara, setelah itu kita memasuki Mekkah dengan lancar.

Penginapan kami yang berada di area Azizia sebenarnya jauh dari Masjidil Haram, tapi Haramain menyediakan bus untuk transportasi ke Masjidil Haram setiap waktu sholat. Dan memang bukan penginapan bintang 5 yang disediakan, hanya flat biasa yang sharing sekamar untuk 4 orang. Haramain juga menyediakan paket haji VIP, untuk sekamar 2 orang atau sekamar untuk sekeluarga, baik di Makkah, Mina maupun Madinah. Pelayanan selama di penginapan memuaskan sekali. Penyediaan makanan dan minuman memadai, bahkan kadang berlimpah untuk jamaah Haramain, dengan mayoritas masakan Arabic dengan rasa yang lezat.



Alhamdulillah prosesi umroh dilaksanakan dengan lancar sorenya, bahkan hotel menyediakan barbershop untuk bapak-bapak yang ingin mencukur rambutnya sebagai syarat sah umroh. Malangnya nasib kami ketika selesei umroh pada malam hari restoran sudah tutup, jadi kami agak kelaparan. Untungnya ada grocery store di samping penginapan sehingga bisa membeli sekedar roti atau pop mie. Dan yang penting, hal ini tidak pernah terjadi lagi.



Pada H-1 sebelum prosesi haji, kita menuju Mina. Kita sudah mempersiapkan diri kalau misalnya harus berjalan dari penginapan, karena memang dekat dan ada informasi kalau jalanan macet. Dan memang di Mina bus tidak bisa masuk sampai depan penginapan. Kita diturunkan di atas flyover, dan harus turun menuju penginapan berjalan kaki. Backpack dan duffel bag sudah siap disandang masing-masing jamaah, tapi ternyata ada datang kuli-kuli untuk mengangkut tas-tas kita menuju penginapan, sehingga kita bisa bersantai menuruni jembatan yang sebenernya juga sangat dekat. Rombongan dipimpin oleh "kurcaci", begitu Bu Cathy menyebutnya, yang sebenernya adalah pegawai hotel yang memakai baju khusus dan membawa papan bertuliskan Haramain. Kurcaci ini yang setia memandu kami dimanapun.

Sheikh pemilik Haramain memang baik hati dan tidak ingin membiarkan jamaahnya kesusahan barang sedikitpun. Beliau selalu ada di setiap prosesi haji, dan tak segan-segan memarahi anak buahnya bila terjadi kesalahan atau bila jamaahnya "agak" kesusahan.

Di Mina ternyata tendanya modern. Berdinding triplek dan beratapkan tenda biasa. Di luar triplek juga tertutup kain yang seolah-olah bangunan yang kita tempati adalah tenda. Untuk tenda umum, masing-masing jamaah disediakan sofa bed single, sehingga walaupun berdempetan tetapi tetap ada privasi. Kondisi toiletnya juga bersih dan banyak. Hampir tidak perlu mengantri ataupun kalau mengantri hanya 1 orang. Sebenarnya saya sudah sangu Dettol Surface Spray karena membayangkan toiletnya kotor sekali. Tetapi yang terjadi hanya sempat terpakai sekali selama di Mina.



Makanan dan minuman senantiasa berlimpah, walaupun pernah makan siang datang terlambat karena listrik mati sehingga makanan belum matang, atau karena Chefnya tiba-tiba kakinya bengkak. Tapi hal itu juga tidak membuat kita tersiksa karena memang setelah makan kita mengambil buah-buahan untuk bekal agar tidak kelaparan menunggu waktu makan selanjutnya.



Pada hari H kita menuju Arafah, dan ternyata Haramain memberi kejutan yang manis buat jemaahnya. Haramain menyediakan tenda yang super besar, layaknya tenda untuk pernikahan ala Qatar, dengan sofa-sofa besar. Tak lupa ada toilet portable khusus untuk jamaah Haramain, yang tertutup dan jumlahnya tersedia dengan layak. Setelah khotbah untuk hari Arafah maka keluarlah kita untuk berdoa karena Hari Arafah adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa.



Selepas maghrib kita memasuki bus, dan menuju Muzdalifah. Bus berjalan dengan lancar, walaupun awalnya harus berdempet-dempet dengan kendaraan lain. Haduuuh, rasanya ngeri melihat sesama bus berupaya saling mendahului di kemacetan. Di Muzdalifah bus berhenti dan jamaah sholat jama' Qashar Maghrib dan Isya, bermalam sebentar dan tengah malam kita langsung menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh haji. Selesei umroh haji, rombongan kembali ke Azizia, beristirahat sebentar dan mandi. Baru pagi hari kembali ke Mina.

Di Mina kita melaksanakan prosesi lempar jumroh. Hari pertama (H+1) sepi karena kita melaksanakannya sore hari, sementara waktu yang afdhal adalah pagi hari. Kita harus berjalan sekitar 4km pp menuju tempat lempar jumroh. Jalanan lurus dan bangunan lempar jumroh sudah terlihat dari depan tenda.

Hari kedua (H+3) dan ketiga (H+4) melaksanakan lempar jumroh pada waktu yang afdhal, setelah sholat dhuhur. Amat sangat ramai sekali. Padahal bangunannya sudah bertingkat 4. Tak terbayangkan waktu orang tua melaksanakan lempar jumroh pada saat belum ditingkat. Betapa bahayanya karena jamaah dari berbagai sisi saling mendorong untuk mendekati tiang.

Hari ketiga sebagian kecil dari jamaah (termasuk kami) kembali ke Azizia, walaupun sunnahnya sampai 4 hari (H+5). Entah kenapa perutku selama di Mina upset, penuh gas sampai ke dokter 2 kali untuk diberi obat. Dan katanya sih penyakit perut kembung itu wajar sekali di kala Haji.

Akhirnya pada H+5 kami berdua memutuskan untuk sholat shubuh di Masjidil Haram. Naik taksi dari Azizia hanya sekitar SR 30. Selesei sholat shubuh, menunggu matahari terbit dan sholat dhuha kami memasuki mal di masjidil haram, untuk mencari oleh-oleh untuk tante yang kebetulan juga melaksanakan ibadah haji dari kloter bandung. Setelah itu kita berjalan kaki menuju hotel tante, yang berada lurus di terowongan depan pintu Babussalam. Alhamdulillah, dalam silaturahmi yang singkat ini tante terlihat bahagia karena ditengok keponakan.

Menjelang Dhuhur kita kembali ke Masjidil Haram naik taksi omprengan. Setelah sholat dhuhur kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Ternyata pada saat itu taksi semua penuh, dan tidak ada yang mau mengantar ke Azizia karena terlalu dekat. Ada yang mau pun mintanya QR 200. Akhirnya kita mencari taksi di dekat terowongan Babussalam setelah mencari di dekat Hilton tidak ada. Dan ada 1 taksi yang mau QR 50 ke Azizia. Whatta surprise. The next thing we know we were in a speeding car, without any seat belt di belakang. Si sopir ngebut ga kira-kira sampai akhirnya menyenggol mobil lain dan menyenggol orang. Astaghfirullah, dunia rasanya berakhir karena mobil pun hampir terbalik. Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan dan sampai di depan penginapan di Azizia dengan selamat, walaupun si sopir tetep saja ngebut seolah tak kapok setelah mobilnya hampir terbalik.

Masuk ke dalam kamar tak tahan aku menumpahkan air mata ke teman Malaysia. Rasanya shock berat dan teringat jamaah haji yang ditabrak sopir tak tau diri itu, apa yang terjadi pada dirinya, apakah dia terluka atau bagaimana. Astaghfirullah.. Teman-teman berdatangan di kamar dan menenangkan diriku. Whatta a bad experience. Sampai sekarang saya trauma untuk naik taksi di Saudi. NO MORE!

Malam harinya, setelah jamaah Haramain dari Mina berkumpul, kami makan malam dulu kemudian menuju ke Masjidil Haram untuk Thawaf Wada.

Pada malam itu ramenya amat sangat. Lingkaran orang berthawaf sangat melebar dan berjalan amat pelan. Sempat terdesak oleh jamaah Turki yang besar-besar dan bahkan didesak oleh Jamaah Indonesia. Amat sangat disayangkan sekali, pada saat beribadah kok malah menyakiti orang lain, bangsa Indonesia pula. Akhirnya kami umroh di dalam bagian yang beratap, untuk menghindari gencetan dengan jamaah lain.

Keesokan harinya (H+6) kita menuju Madinah. Rasanya gembira sekali hati ini sudah menunaikan ibadah haji. Raut-raut kegembiraan juga tampak di wajah jamaah lain.

Tiba di Madinah sudah sore hari dan kami langsung cek in di Intercontinental Hotel. Sheikh pemilik Haramain tetap menemani kami dan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Di Madinah makanannya langsung dari Hotel, jadi Chef dan pembantu-pembantunya sudah tidak ikut kita.



Setelah di Madinah 2 malam, berziarah ke Masjid Quba dan menyempatkan diri berdoa dan sholat di Raudah, tiba saatnya kita kembali ke Qatar. Sore hari kita meninggalkan hotel menuju Bandara Madinah, untuk jadwal kepulangan jam 7 malam. Sebenernya sudah lupa jam berapa tepatnya karena yang terjadi adalah pesawat delay hampir 5 jam.



Ada kejadian pukul 12 malam kita disuruh naik Cobus untuk menuju pesawat, eh ternyata di depan pintu pesawat kita ditolak mentah-mentah, katanya salah pesawat. Apa coba? hehehe.. Akhirnya kami semua kembali ke ruang tunggu lagi. Ada yang marah-marah, tapi kita malah tersenyum-senyum karena sudah menyangka kalo Saudi Airlines akan "berulah" lagi.



Akhirnya sekitar jam 2 malam terbanglah ke Doha, dan hampir shubuh kami sampai di rumah. Alhamdulillah.. lega sekali rasanya kembali ke "peradaban"

Latifah kita jemput siang hari setelah sholat jumat. Awalnya merangkul bundanya eraat sekali, sampai terharu rasanya. Duuh, begini to rasanya meninggalkan anak. Latifah juga takut melihat ayahnya karena gundul. Setelah berdiam diri selama sejam, akhirnya Latifah mulai bersuara dan gembira bersama. Alhamdulillah..:)

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada keluarga Om Anto / Mbak Tika, yang telah merawat Latifah dengan baik (bahkan sepertinya lebih terawat di sana deh, hehehe..), mohon maaf kalau teachernya Latifah ternyata tidak membantu banyak, malah menyusahkan. Semoga persahabatan yang indah ini akan kekal selamanya, amin..

Rabu, Oktober 21, 2009

Minimarket Din Din a.k.a. Warung Din Din

Setelah lama berhubungan dengan Jus Din-Din*, sekarang saya mempunyai kegemaran baru, berbelanja di Warung Din Din di UPS (University Petrol Station = pom bensin University). Ga jelas juga kenapa dinamakan University ya, padahal Qatar University masi jauh dari situ.

Anyway, definisi dari Warung Din-Din ini adalah grocery store/ supermarket kecil yang mempunyai pegawai yang khusus nyamperin pembeli di mobil. Jadi pembeli ga usah turun, tinggal klakson .. Din..Din.. dan pegawainya nyamperin trus bertanya, mo belanja apa bu, pak?. Yah, serasa beli fast food di Drive Through itu..

Warung Din-Din ini, biasanya berada di deretan Jus Din-Din, Chay Din-Din.. dan anykind of other Din-Dins..

Contohnya di UPS ini, pom bensin yang kecil ini din-dinersnya banyak juga loh.. mulai dari Subway, Hardee's (yep, I usually bought my Hardee's here), Warung Chai (teh susu/teh tarik), Tukang AC, Tukang Aki, Warung Sayuran & Buah, Stationery store (toko buku), Pharmacy (apotek), Laundry, Jus Din-Din (ada 2, dan selain jus mereka juga sedia burger & fries), dan yang terakhir.. Minimarket Din-Din..

Minimarket/ warung din-din yang di UPS ini lengkap loh.. seperti indomart/alfamart (tanpa sayuran dan buah), tapi pilihan barangnya lebih banyak. Di situ aku biasa din-din Aqua Galon (di sini merk-nya Rayyan, Manhal, Nestle, dll.. tapi lebih suka nyebut air mineral sebagai Aqua:)), yoghurt latifah, roti tawar, pulsa (Hala Credit) dan macem-macem deh..

Yang jadi ribet ketika semua mobil pada antri di warung din din itu..

Catet ya buk.. mulai dari landcruisers, nissan patrol,armada, any kind of GMC, mustang, sampe nissan sunny (dan mobil-mobil merk lain tentunya) juga pada antri dempet-dempet di situ.

Jangan ngebayangin jalan di depan warung dindin itu layaknya jalan di depan resto fast food yang khusus drive through (special lane), yang ada ini mobil pada parkir dan berhenti ga karuan posisinya sampai hajatnya tersalurkan (maksudnya belanjanya selesei). Letak warungnya sendiri juga di pom bensin yang kecil yah.. bukan kaya pom bensin Pertamina yang Pasti Pas itu..

Yang jelas warung din-din ini sangat praktis bagi saya, seorang ibu yang selalu membawa bayi di dalam mobil. Kalo misalnya butuh roti tawar hanya 1, ato hanya pengen beli yoghurt 6, dan harus masuk supermarket ribet sekali prosesnya.

Pertama, harus cari parkir dulu,

Kedua, cuaca yang suka aneh (kadang terlalu panas sampai 50 derajad--> car termometer reading, kadang terlalu dingin 12 derajad kalo siang), buka kaca jendela aja malas, palagi kalo keluar?

Ketiga, harus gendong latifah masuk ke supermarket (karena beli sedikit ga usah bawa stroller), iya kalo latifah mau keluar, kadang terlalu asyik sama dvd playernya dia ga mau keluar mobil,

Keempat, iya kalo latifah anteng di dalam trolly, kalau teriak-teriak pengen ini itu kalo melewati lorong

Kelima, harus antri di kasir..

Keenam, harus gendong lagi dan masukkan ke car seat, strap her there..


So.. time to waste untuk beli roti tawar sekitar 15 menit, belum lagi ternyata di dalam supermarket kita nemuin "sesuatu" (ladies, you know what I mean right?"), sementara kalo pake din-din, hanya 5 menit (itu udah dengan eyel-eyelan sama pegawainya..hehehe..

Dan gara-gara pegawainya warung din-din itu mostly orang keling (you know, orang yang filmnya penuh nyanyi-nyanyi, trus lari-lari di taman itu), bahasa inggris mereka tentunya terbatas. Akhirnya kalo mau beli sesuatu juga harus pake gesture dan penjelasan yang panjang lebar (yang terkadang juga tetep aja barang yang dibawa salah).


Contohnya nie:

Contoh 1, saya mau beli yoghurt buat latifah:

Shanti (S): "Do you have sweet yoghurt?" (punya yoghurt?)

Pegawai Din Din (P): ok, (sambil geleng-geleng trus lari masuk ambil barang)

P : (membawa kresek isi plain yoghurt), "5 riyals madam"

S : "not this one, you know, Almarai yoghurt, with sweet things, fruit flavoured, sometimes strawberry, blueberry" (bukan yang ini, yoghurt almarai yang ada manis-manisnya itu lo, rasa buah2an)

P : ok, (sambil geleng-geleng trus lari masuk ambil barang)

P : (bawa kresek isi yoghurt salah lagi..)

S : "not this one.."

P : (keluar bawa laban ---> susu asem)

S : "not this one.., sweet yoghurt" (rada cape sudah)

P : (keluar bawa es krim)

S : "hey, this is ice cream not yoghurt!! (sudah agak emosi)

P : (keluar bawa yoghurt almarai, dengan rasa cherry)

S : "finnaly (lega..), oke how much.. what do you call this yoghurt?"

P : "just.. yoghurt"

S : %$@#@$%%^^

(tapi waktu beli lain waktu dilayani pegawai lain, dan setelah mengalami kesusahan yang hampir sama, saya pun bertanya, "what do you call this yoghurt?", dia bilang "fruit yoghurt". OK, NOTED!)

(tapi belum kesana lagi untuk coba yang ketiga kalinya, soalnya Almarai ada 2 macam fruit yoghurt, yang pertama layered (jadi selai buahnya di bawah), dan yang kedua dicampur langsung yoghurtnya)


Contoh 2, saya mau beli kacang ijo buat farewell party besok (lho kok ada kacang ijonya? katanya sate?hehehe.. nantilah saya jelaskan lagi)

S : "do you have moong bean? monggo (bahasa tagalog)?"

P : "mango?"

S : "not mango, but moong bean, you know, the small green bean?"

P : "wait" (mengulurkan tangan dan masuk ke dalam, ternyata manggil temennya)

P : "what do you want madam?" (temannya yang lain)

S : "moong bean, or monggo.. it's like soy bean but smaller and green color"

P : "green peas?"

S : " nooo.. " (udah kehabisan kata-kata mana panik pula, ada nissan patrol ngebel-ngebel pengen liwat, akhirnya berpindah di samping warung, sementara pegawai warung masuk lagi)

P : (akhirnya keluar bawa kacang ijo, 1 kg)

S : "exactly!!., how much is this, what do you call this?"

P : (membalik-balik kacang ijo dan menemukan tulisan MOONG BEAN), "eerr.. moong bean? (malah tanya aku), 7 riyal madam"

S : "hehehehe.. oke lah.."


So.. ibu-ibu, demikianlah pengalaman saya dengan warung din-din ini, mis-komunikasi ya memang sering terjadi karena banyaknya merk dan jenis barang yang dijual. tapi considering sebentar lagi mau winter, tetep aja nih kayanya jadi langganan warung din-din.. Mo ikutan?

Shanti:)

Sabtu, Januari 10, 2009

Rabu, Januari 07, 2009

It's Over Now!!

Haaa?? apanya yang sudah selesei buk?

LIBURAN
Tidak seperti di Indonesia yang banyak sekali tanggal merah dan sedikit sekali jatah cuti, di Qatar sepanjang tahun hampir tidak ada tanggal merah. Kecuali 3 event, yaitu Lebaran Idul Fitri, Idul Adha dan National Day yang jatuh pada 18 Dec 2008 (berlaku untuk kantor pemerintah dan afiliasinya ) . Pada kedua lebaran, liburannya sangat panjang, yaitu masing-masing 9 hari kalender. Jangan harap natal ataupun tahun baru libur, kecuali perusahaan swasta yang share holder mayoritasnya orang bule.

But it's okay, karena memang kita dapat jatah cuti tahunan yang sangat banyak, bisa dipakai mudik sepuasnya. Aku sendiri dapat jatah 31 hari kerja (more than 1,5 month), dan kebijakan tiap perusahaan juga beda, tergantung pemilik perusahaan (pemerintah ato privat), dan jabatan masing-masing karyawan.

Naaah, itulah salah satu alasan yang bikin aku males ngeblog selama Desember kemaren, soalnya libuuur, melulu. Total dalam sebulan aku libur 10 hari. Yaa ya.. kalo di rumah juga mana sempat mo nyentuh laptop.. Sudah cukup 2 keyboard korban "keaktifan" Latifah.

BISNIS SAMPINGAN
Juga bulan kemaren sempet ribet dengan bisnis baru, yang sebenarnya sangat menjanjikan, tetapi berhubung sesuatu dan lain hal, jadinya agak malas meneruskan, walaupun demand masih cukup tinggi. Mungkin kalau komunikasi dengan Indonesia sudah lancar lagi akan kumulai lagi dengan semangat. Sekarang si meski promosinya cuma ke teman, alhamdulillah masih ada saja yang pesan. Yang penting target tercapai dan puas.

WINTER SALE
Setelah berminggu-minggu kalap dengan winter sale, apaa aja dibeli, dengan alasan badan sudah (almost) back to normal size sebelum melahirkan, sudah waktunya menyudahi perjuangan. Lemari sudah penuh, baju Latifah sudah kebanyakan, dan rak sepatu sudah ga muat kayanya. Selain itu juga budget belanja sudah utilized hampir 95%. Sempat kepikiran mo advance budget bulan depan si (diketawain suami), tapi dibatalkan demi hukum. Hehehe.. it's enough. Winter sale ini juga berpengaruh pada jam penjemputan Latifah di Nursery, jadi molor deeh, sehingga kena Late Pick Up Fees.. Huuu.. (Juga pernah dimarahi suami karena kelamaan di mol, padahal suami mo berangkat kerja malam, Maaf ya sayang.. I won't do it again). Sekarang mari kita tunggu Mid Seasons Sale and Summer Sale, hahahaha...

FOOD.. GLORIOUS FOOD..
Diawali dengan general check upnya suami, yang ternyata menunjukkan adanya kolesterol tinggi. Waa.. langsung panik aku, walaupun ternyata hampir semua teman suami juga mengalami hal yang sama. Gimana ga kolestelor, kita penggemar makanan Arab dan India yang super duper kolesterol tinggi dan masakan Indonesia yang harus digoreng biar renyah dan nendang. Dokter menyarankan agar suami diet dengan mengurangi gorengan dan kacang-kacangan., dengan sedikit mengancam kalau misalnya dalam sebulan belum normal suami harus minum obat. Dan kemudian dimulailah hari-hari itu. Pada awalnya terasa berat karena kita memulainya drastis. No gorengan, semua makanan aku oven. Bahkan bikin tahu tek, semua dioven dan bumbunya tanpa kacang.. (waktu makan serasa sediiih sekali karena tidak senikmat biasanya, hehehe..).No santan, aku ganti dengan susu rendah lemak (susu? iya, dan rasanya juga enak loh buat masak lodeh). Nasi sedikit sekali dan seringnya makan Quaker Oats.

Hardee's, KFC, Pizza, Burger King Chinese Food, Indian Food, dan semua makanan yang enak-enak lainnya hampir-hampir distop. Dalam sebulan ini, aku ingat sekali kalo hanya makan Hardee's sekali, itupun dibagi berdua, Burger King sekali (habis itu muntah-muntah karena eneg dan kekenyangan), Stromboli juga sekali, seporsi berdua, makan di resto Indonesia juga sekali yang habis itu juga mual banget karena eneg. What's wrong with our tummies?

Hasilnya, berat badan suami turun 6kg, dan aku hanya turun 5kg. Horeeee.... Perjuangan masih dilanjutkan walau tidak seketat sebelumnya, sampai suami tes kesehatan lagi dan bener-bener dinyatakan free kolesterol.

Ternyata dengan turunnya berat badan, membuatku semakin bersinar (kata suami) dan percaya diri (kata sendiri). Gimana tidak, waktu hamil aku naik 20kg, dan baru Desember kemaren aku bener-bener diet dan alhamdulillah berhasil. Sekarang targetku harus turun lagi 3kg, saat Latifah berulang tahun yang Pertama, 31 Jan 2009 nanti. Insya Allah. Suami juga tambah ganteng aja dan terlihat sehat (ga boleh protes, ini kan suami akyuuu..hehehe..). Kita si pengennya ga nambah lagi ya berat badannya setelah semuanya normal, semoga tekad kita terlaksana (walaupun tante Oprah Winfrey aja masih naik turun berat badannya, hehehe..).

DISKON JAM KERJA
Ini sih sebenarnya belum berakhir, baru nanti pada 31 Jan 2009. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, di Qatar, setelah melahirkan, karyawan mendapatkan diskon jam kerja 1 jam, boleh diambil di awal atau di akhir jam kantor, selama 1 tahun. Yaa.. berhubung bentar lagi Latifah dah 1 tahun ya berarti selesei dong diskonnya. Waaa... Sekarang jam kerjaku dari jam 8.30 sampe 2.30 aja.. hanya 6 jam aja sodara-sodara! dan setelah 31 Jan nanti akan pulang jam 3.30 .. kok rasanya belum siap:((

Oke dah, segitu aja dulu, nanti disambung lagi ya. Akhir-akhir ini terlalu asyik dengan fesbuk, jadi males ngeblog.. btw, add aku di fesbuk ya.. Tag: Shanti Fahlevi (suami : nanti ku-kudeta loh fesbuknya.. hahahaha..)